Quote of this day

SEMOGA SUKSES ^_^ !! salam hangat dari saya semoga kita selalu mengingat ALLAH, karena ALLAH tidak pernah lupa dengan kita * mari berolahraga agar tubuh sehat dan bugar * dahulukan makan buah sebelum makan menu utama agar nutrisi dapat terserap lebih optimal * Ronaldinho pernah mencuri apel agar ia dapat latihan berlari lebih kencang * belajar dari alam membuat kita semakin bijak * bergaullah dengan orang yang tepat tapi berilah pengaruh positif pada semua orang * tertawalah sebelum tertawa itu dilarang

Rabu, 13 Agustus 2014

ANALISIS PSIKOLOGI MASSA PADA KECELAKAAN DI BINTARO 12 AGUSTUS 2014




KRONOLOGI KEJADIAN

Selasa 12/8/2014 terjadi kecelakaan di depan Ruko Sentra menteng jakarta selatan dengan melibatkan satu unit sepeda motor, dua unit mini bus jenis freed dan avanza sera satu unit taxi



Dalam kecelakaan tersebut tidak ditemukan korban tewas, namun terdapat setidaknya 7 hingga sepuluh orang mengalami luka-luka dan kerugian berkisar antara 250-500 juta rupiah.



"Kendaraan yang terlibat kecelakaan, taksi, Honda Freed, dan Toyota Avanza," ujar Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Kota Tangerang Komisaris Donni Eka Syaputra, Selasa, 12 Agustus 2014.

Peristiwa nahas ini terjadi sekitar pukul 11.30 WIB ketika mobil Honda Freed putih keluar dari perumahan Taman Menteng hendak menuju Bintaro Sektor 9. Sebelum mencapai pertigaan jembatan Taman Menteng, mobil tersebut menyenggol sebuah sepeda motor. Namun pengendara mobil langsung tancap gas meninggalkan pengendara sepeda motor yang tersenggol itu.

Saat berbelok ke kiri dari pertigaan jembatan Taman Menteng, pengendara Honda Freed tak dapat menghindari Toyota Avanza yang sedang melaju kencang dari Bintaro Plaza. "Karena sama-sama sedang dalam keadaan kencang, kedua kendaraan pun bertabrakan. Sebuah sepeda motor lain juga tersenggol akibat tabrakan itu," kata Donni.

Tabrakan beruntun ini diperparah dengan taksi berwarna oranye yang ikut menabrak Toyota Avanza tersebut. "Taksi berusaha menghindar, tapi tidak berhasil. Tabrakan itu memicu api dan ketiga mobil terbakar. Tidak ada korban jiwa," kata Donni. Beberapa pengendara mengalami luka ringan dan dibawa ke Rumah Sakit Premiere Bintaro. (sumber:
http://www.tempo.co/read/news/2014/08/12/064598996/Tabrakan-Beruntun-di-Bintaro-Tiga-Mobil-Terbakar)







SEKILAS MENGENAI PSIKOLOGI MASA



Massa (mass) atau crowd adalah suatu bentuk kumpulan (collection) individu-individu, dalam kumpulan tersebut tidak terdapat interaksi dan dalam kumpulan tersebut tidak terdapat adanya struktur dan pada umumnya massa berjumlah orang banyak dan berlangsung lama.



1.      Massa menurut Gustave Le Bon (yang dapat dipandang sebagai pelopor dari psikologi massa) bahwa massa itu merupakan suatu kumpulan orang banyak, berjumlah ratusan atau ribuan, yang berkumpul dan mengadakan hubungan untuk sementara waktu, karena minat dan kepentingan yang sementara pula. Misal orang yang melihat pertandingan sepak bola, orang melihat bioskol\p dan lain sebagainya.



2.      Massa menurut Mennicke (1948) mempunyai pendapat dan pandangan yang lain shingga ia membedakan antara massa abstrak dan massa konkrit.

·         Massa Abstrak adalah sekumpulan orang yg belum terikat satu kesatuan, norma, motif dan tujuan tertentu. Terbentuk karena : ada kejadian yg menarik, ancaman terhadap individu dan adanya kebutuhan yg tidak terpenuhi.

·         Massa Konkrit adalah massa yang mempunyai ciri-ciri

a.       Adanya ikatan batin, ini dikarenakan adanya persamaan kehendak, persamaan tujuan, persamaan ide, dan sebagainya.

b.      Adanya persamaan norma, ini dikarenakan mereka memiliki peraturan sendiri, kebiasaan sendiri dan sebagainya.

c.        Mempunyai struktur yang jelas, di dalamnya telah ada pimpinan tertentu. Antara massa absrak dan massa konkrit kadang-kadang memiliki hubungan dalam arti bahwa massa abstrak dapat berkembang atau berubah menjadi konkrit, dan sebaliknya massa konkrit bisa berubah ke massa abstrak. Tetapi ada kalangan massa abstrak bubar tanpa adanya bekas. Apa yang dikemukakan oleh Gustave Le Bon dengan massa dapat disamakan dengan massa abstrak yang dikemukakan oleh Mennicke, massa seperti ini sifatnya temporer, dalam arti bahwa massa itu dalam waktu yang singkat akan bubar.



3.   Massa menurut Park dan Burgess (Lih. Lindzey, 1959) membedakan antara massa aktif dan massa pasif.

a.       Massa aktif (mob) yaitu massa yang terbentuk karena telah terbentuknya tindakan nyata seperti demonstrasi dan perkelahian missal.

b.      Massa Pasif (audience) yaitu kumpulan orang yg belum melakukan tindakan nyata, misal : orang-orang berkumpul mendengarkan ceramah, mengikuti seminar dan nonton pertandingan basket

Psikologi adalah ilmu tentang perilaku dan proses mental. Massa dapat diartikan sebagai bentuk kolektivisme (kebersamaan). Oleh karena itu psikologi massa akan berhubungan perilaku yang dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok massa. Fenomena kebersamaan ini diistilahkan pula sebagai Perilaku Kolektif (Collective Behavior).



Dalam perilaku kolektif, seseorang atau sekelompok orang ingin melakukan perubahan sosial dalam kelompoknya, institusinya, masyarakatnya. Tindakan kelompok ini ada yang diorganisir, dan ada juga tindakan yang tidak diorganisir. Tindakan yang terorganisir inilah yang kemudian banyak dikenal orang sebagai gerakan social (Social Movement).



ANALISIS



Sudah menjadi hal lumrah di tataran masyarakat indonesia yang menganggap bahwa fenomena seperti kecelakaan, tragedi atau hal lain akan mengundang perhatian massa.

Tak terkecuali dengan peristiwa yang terjadi sehari lalu di daerah bintaro tersebut.



Dalam hal ini saya mencoba membuat analisa tentang keadaan psikologi massa (penduduk sekitar, tidak termasuk korban) yang melihat fenomena tersebut.



Dalam pembahasan mengenai psikologi massa kita mengenal beberapa macam bentuk prilaku kolektif, yaitu CROWD (KERUMINAN), MOB, PANIC, RUMORS, OPINI PUBLIC, dan PROPAGANDA.



Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai macam macam bentuk perilaku kolektif, saya akan menyajikan sebuah teori dari seorang psikolog bernama Neil Smelser yang berpendapat mengenai kondisi yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif, diantaranya:



1.      Structural conduciveness: beberapa struktur sosial yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif, seperti: pasar, tempat umum, tempat peribadatan, mall, dst.

2.      Structural Strain: yaitu munculnya ketegangan dlam masyarakat yang muncul secara tersturktur. Misalnya: antar pendukng kontestan pilkada.

3.      Generalized beliefs : share interpretation of event (kepercayaan yg sama terhadap sebuah acara), misalnya perkumpulan ceramah agama.

4.      Precipitating factors: ada kejadian pemicu (triggering incidence). Misal ada pencurian, ada kecelakaan.

5.      Mobilization for actions: adanya mobilisasi massa. Misalmya : aksi buruh, rapat umum suatu ormas, dst.

6.      Failure of Social Control – akibat agen yang ditugaskan melakukan kontrol sosial tidak berjalan dengan baik.



Nah, kejadian mengenai berkumpulnya banyak orang saat fenomena kecelakaan didasari oleh Precipitating Factor, dimana pemicu berkumpulnya banyak orang dalam satu wilayah karena adanya sebuah kejadian yang mengundang perhatian massa. Hal tersebut terjadi karena masih tingginya solidaritas masyarakat indonesia dalam hubungan toleransi antar masyarakat, masyarakat sekitar masih memiliki kepedulian untuk menolong korban kecelakaan tersebut. Mungkin akan berbeda respon masyarakat apabila hal tersebut terjadi di amerika atau jepang dimana kehidupan disana sudah terlalu individualis. Masyarakat individual akan menyerahkan tugas penyelamatan korban pada petugas yang berwajib seperti polisi dan pemadam kebakaran.



Hal lain yang mungkin menjadi motivasi masyarakat untuk berkumpul adalah mereka ingin mengabadikan momen dalam kamera/ handfonnya hanya sekedar untuk dijadikan sebagai dokumen pribadi atau bahkan dijual ke pihak media masa. Disinilah sebenarnya yang menjadi motivasi besar masyarakat sekira satu jam setelah peristiwa kecelakaan terjadi.



Macam bentuk prilaku yang terjadi pada peristiwa tersebut adalah CROWD

Secara deskriptif Milgram (1977) melihat kerumunan (crowd) sebagai :

1.      Sekelompok orang yang membentuk agregasi (kumpulan),

2.      Jumlahnya semakin lama semakin meningkat,

3.      Orang-orang ini mulai membuat suatu bentuk baru (seperti lingkaran),

4.      Memiliki distribusi diri yang bergabung pada suatu saat dan tempat tertentu dengan lingkaran (boundary) yang semakin jelas, dan

5.      Titik pusatnya permeable dan saling mendekat.



KESIMPULAN

Dari fenomena kecelakaan yang terjadi di Bintaro tanggal 12 Agustus lalu, dapat kita simpulkan bahwa fenomena berkumpulnya masa dapat digolongkan sebagai fenomena CROWD, dimana faktor pemicunya adalah sebuah Precipitating Factor yaitu kecelakaan beruntun dua buah mini bus, satu taksi dan satu sepeda motor.



Selanjutnya terjadi konsentrasi masa yang semakin membesar dengan motivasi:

  1. Menolong korban
  2. Masyarakat tercengang dengan fenomena tersebut
  3. Fenomena dianggap sebagai sesuatu yang menarik perhatian
  4. Melakukan pendokumentasian dengan tujuan untuk pribadi maupun mencari keuntungan
  5. Petugas yang berwenang menjalankan tugasnya



Menurut saya prosentase motivasi massa terbesar adalah nomor 4, yakni pendokumentasian karena pada era ini setiap orang memiliki alat komunikasi (handphone/smartphone) yang telah dilengkapi kamera. Namun apa tujuan mereka melakukan pendokumentasian tersebut? Tanyakan saja pada orangnya... Hehehe



Terimakasih, semoga bermanfaat

Yulian Dwiantoro

Rabu, 23 Juli 2014

celotehan pagi


dunia sudah makin kacau
ngga ada pembeda yang jelas antara yang benar dan yang salah
karena semua mulai dirasionalkan
ketika satu kesalahan  dilakukan
namun diimbangi seribu argumen yang membenarkan
maka kesalahan itu bisa berubah jadi sebuah kebenaran

manusia semakin sibuk dengan urusan dunianya
padahal umur manusia ngga sepanjang angan-angannya

banyak hal yang harus dirubah
tentang dunia dan pola pikir kita

sebagian mulai menganggap agama sudah ngga menarik
sudah kalah dengan kesibukan nyari lembaran rupiah

lalu sebenarnya hidup ini untuk apa?
uang?? kendaraan mewah? rumah mewah? istri pacar cantik??

sekarang coba bayangkan di pikiran anda sesuatu yang ingin anda dapatkan dimasa depan
.....
....
....
....

apa?
mobil mewah?, uang banyak? rumah mewah?
pasti itu,,
dream mapping sudah terlalu banyak terisi dengan keinginan duniawi
paling banter ada keinginan 'naik haji'

naik haji 'formalitas'
coba hitung, keinginan mu lebih banyak yang bersifat duniawi atau ukhrawi??

naik haji saja punya banyak motivasi, ya mungkin bisa saja naik haji dengan tujuan jalan-jalan atau supaya dipanggil pa haji/bu haji

sudahlah,,

mau tidak mau memang harus ada yang dirubah
dunia sudah menampakkan kemundurannya

kemajuan pola pikir sudah pernah mencapai masa kejayaannya
tinggal menunggu kemunduran

dan lebih berbahaya ketika kemajuan teknologi seiring dengan kemunduran pola pikir

memang banyak yang harus dirubah

tentang dunia dan pola pikir kita...


 



Selasa, 22 Juli 2014

mungkin mereka sedang tidur




Mungkin mereka sedang tidur
Ketika kami disini dihujani peluru saat kami berbuka puasa

Mungkin mereka sedang tidur
Ketika mortir menerjang rumah dan meruntuhkan atap kami


Mungkin mereka sedang tidur
Ketika tentara zionis memaksa kami keluar rumah dan mengusir kami
Mungkin mereka sedang tidur
Ketika anak-anak kami di seret paksa saat sedang belajar di sekolah

Mungkin mereka sedang tidur
Ketika para ayah dibawa ke camp militer tanpa pernah dipulangkan kembali
Mungkin mereka sedang tidur
Ketika airmata sudah kering melihat anak-anak kami mati meleleh

Mungkin mereka sedang tidur
Ketika serdadu zionis menembaki jamaah sholat jumat
Mungkin mereka sedang tidur
Ketika api membakar rumah kami

Mungkin mereka sedang tidur
Ketika kami tidak bisa tidur
Mungkin mereka sedang tidur panjang
Hingga mereka tidak tau perang ini berlangsung sudah sangat lama dan melelahkan

Rabu, 28 Mei 2014

KEUTAMAAN ILMU


“…Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?..”
(Az Zumar [39]: 9)

Islam sangat menghargai ilmu dan ulama (ilmuwan), sehingga kedudukan ilmu dan ulama sangat tinggi dan mulia dalam parameter Islam. Allah SWT telah berfirman: “… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Al Mujaadilah [58]: 11).

Rasulullah SAW juga telah mengisyaratkan: “Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan, niscaya ia akan diberi pengertian atau pemAahaman mengenai agama” (HR. Bukhary dan Muslim). Bahkan kedudukan seorang alim (orang yang berilmu) lebih tinggi dibandingkan kedudukan seorang ‘abid (orang yang beribadah). “Kelebihan seorang alim dari seorang ahli ibadah, seperti kelebihanku terhadap orang yang terendah di antara kamu” (HR. At Tirmidzi).
Berkata Umar RA: “Wahai manusia! Kalian wajib menuntut ilmu. Sesungguhnya Allah memiliki selendang kemuliaan. Barangsiapa mencari satu bab ilmu saja, niscaya Allah akan membalutnya dengan selendang kebesaran-Nya”.
Mu’adz bin Jabal berkata: “Belajarlah olehmu ilmu pengetahuan! Sebab, mempelajarinya karena takut kepada Allah merupakan ibadah, mempelajarinya berarti tasbih, membahasnya jihad, mengajarkannya shadaqah dan mencurahkannya kepada ahlinya merupakan qurban. Ilmu adalah teman dalam kesendirian, dalil agama dan penolong dalam suka dan duka. Ia shahabat karib di kala sepi, teman yang paling baik dan paling dekat serta ia merupakan cahaya jalan menuju surga. Dengannya Allah mengangkat martabat ummat, lalu dijadikan-Nya mereka pemimpin dalam hal kebaikan”.

Kewajiban Menuntut Ilmu

Karena kedudukan ilmu yang sedemikian tingginya, maka Islam mewajibkan ummatnya untuk mempelajari ilmu, sehingga diharapkan mereka bekerja berdasarkan ilmunya, bukan sekedar mengikuti seseorang tanpa tujuan. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”(Al Israa’ [17]: 36).
Ayat ini mengisyaratkan bahwa Islam sangat memusuhi sikap-sikap taqlid, yaitu sikap mengikuti sesuatu tanpa didasarkan pada ilmu, tetapi hanya sekedar ikut-ikutan. Mereka inilah yang disebut dengan pengikut fanatik atau pengikut buta. Berkata Al Aufi tentang maksud dari ayat ini: “Janganlah engkau menuduh seseorang tentang sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan dalam hal itu”.
Sedangkan Qatadah berkata:”Janganlah engkau berkata, “Aku telah melihat padahal engkau tidak melihat, aku telah mendengar padahal engkau tidak mendengar, aku telah mengetahui padahal engkau tidak mengetahui”. Sementara Allah akan meminta pertanggungjawaban kamu tentang hal itu”.
Maka segala sesuatu yang hendak kita kerjakan, semuanya dilandaskan kepada ilmu. Bahkan memahami syahadat pun, harus dilandasi dengan ilmu.
“Maka ketahuilah (ilmuilah), bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (Yang Haq) melainkan Allah…” (Muhammad [47]: 19).
Rasulullah SAW menegaskan kembali tentang wajibnya menuntut ilmu bagi setiap Muslimin dan Muslimat. Sabdanya: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslimin dan muslimah”

Kedudukan Ilmu :

- Fardhu ‘Ain

Ada ilmu-ilmu dalam syari’at Islam yang berkedudukan fardhu ‘ain,yaitu wajib bagi setiap Muslimin dan Muslimat untuk mempelajarinya. Ilmu-ilmu yang wajib untuk dipelajari oleh setiap Muslimin dan Muslimat adalah ilmu-ilmu yang lazim dipergunakan untuk kepentingan diennya atau untuk dunianya.
Imam Abu Muhammad bin Hazm berkata,”Seorang Muslim dan Muslimah harus mempelajari bagimana bersuci, shalat, puasa, halal-haram mengenai makanan dan minuman, pakaian, seks, perkataan dan per- buatan. Semua ini harus dipelajari oleh setiap Muslimin dan Muslimat baik yang merdeka maupun hamba sahaya supaya mereka dapat mempraktekannya ketika sudah baligh. Ia juga harus mempelajari Bahasa Arab untuk memperbagus bacaan Al Qu’an, Hadits,bacaan-bacaan shalat, takbir, tasbih dan lain sebagaianya”. Imam Ghazali mengatakan,”Ilmu dan tujuannya terbagi menjadi dua: syar’i dan non syar’i.
Syari’ah adalah sesuatu yang diambil dari Nabi-Nabi dan akal tidak dapat menunjukkannya, tidak pula pengalaman seperti kedokteran, bahasa dan sejenisnya”.
Sehingga ilmu yang wajib diilmui oleh setiap Muslimin dan Muslimat adalah:
Ilmu untuk mengetahui aqidahnya dengan pengetahuan yang meyakinkan dan shahih, bebas dari segala bentuk syirik dan khurafat.
Ilmu untuk memperbaiki ibadahnya kepada Allah SWT secara dhahir, agar ibadah itu sesuai dengan bentuk yang disyari’atkan. Secara bathiniah dimaksudkan supaya ibadahnya sarat dengan nilai keikhlasan.
Ilmu untuk dapat membersihkan dirinya dan mensucikan hatinya dan untuk mengetahui keutamaan-keutamaan “yang menyelamatkan” sekaligus mengamalkannya. Juga ilmu untuk mengetahui kerikil- kerikil “yang membahayakan” sekaligus menjauhinya.
Ilmu untuk memperbaiki perilaku dalam berhubungan dengan dirinya sendiri, keluarganya dan sesamanya. Terhadap pemerintah dan rakyat, terhadap sesama Muslim dan non Muslim. Dengan itu, ia mengetahui yang halal dan haram, yang wajib dan sunnah, yang layak dan yang tidak layak. Kewajiban mempelajari ilmu-ilmu ini merupakan batas minimal pengetahuan bagi seorang Muslim terhadap dien-nya di setiap lingkungan dan setiap keadaan. Imam Abu Muhammad bin Hazm berkata,”Jika mereka tidak mendapatkan ilmu ini di negaranya, maka dianjurkan untuk mencarinya ke luar, walaupun ke tempat yang paling jauh”. Setelah mempelajari dan mengamalkan ilmu-ilmu itu, jika mungkin, seorang Muslim wajib juga menambah pengetahuan-pengetahuan khusus yang berkaitan dengan kondisinya atau disiplin ilmunya. Orang yang fakir, misalnya, ia tidak diwajibkan mempelajari hukum-hukum zakat secara detail, kecuali sekedar mempelajari zakat yang boleh diambilnya. Seorang pedagang diwajibkan untuk mempelajari hukum zakat yang berkaitan dengan perdagangan secara lebih detail. Tetapi ia tidak diwajibkan untuk mempelajari hukum zakat ternak atau pertanian dengan lebih detail, karena ia tidak membutuhkan. Seorang dokter diwajibkan memperdalam hukum Islam yang berkaitan dengan profesinya; seperti larangan memberikan obat berupa khamr, larangan melakukan aborsi dan lain sebagainya. Tidak dapat tidak setiap manusia tentu memiliki kekhususan bidang dalam ritme kehidupannya. Maka diwajibkan bagi seorang Muslim untuk memperdalam hukum-hukum yang berkaitan dengan dirinya, baik itu berhubungan dengan keahlian atau tugas kesehariannya. Sehingga diharapkan setiap aktivitasnya selalu terkerangka dalam bingkai Syari’at Islam. “… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (An Nahl [16]: 43)

- Fardhu Kifayah

Ada beberapa ilmu yang dikategorikan fardhu kifayah untuk mempelajarinya. Jika salah seorang atau sejumlah orang sudah mempelajarinya, maka kewajiban bagi yang lainnya menjadi gugur. Sebaliknya, jika tidak ada seorang Muslimpun yang mempelajarinya, maka semua ikut menanggung dosanya, terutama pemerintah. allah SWT telah berfirman: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (At Taubah [9]: 122).
Secara dhahir, yang dimaksud fardhu kifayah di sini adalah tiap sesuatu yang dibutuhkan oleh jama’ah Muslimin dalam diennya atau dunianya dengan jalan mendalami ilmu-ilmu syara’ atau spesialis dalam ilmu-ilmu alam seperti kedokteran, teknik, olahraga, astronomi, kimia, fisika, biologi, geologi atau disiplin ilmu lainnya yang dibutuhkan oleh kehidupan masyarakat di abad modern ini; baik di bidang budaya atau kemiliteran (DR. Yusuf Qardhawi, Keutamaan Ilmu Dalam Islam).
Berkata Imam Ghazali,”Ilmu-ilmu non syar’i terbagi menjadi tiga yaitu yang terpuji, yang tercela dan yang mubah. Yang terpuji adalah sesuatu yang terikat dengannya segala kemashlahatan perkara dunia, seperti kedokteran dan matematika…”.
Dari sini bisa difahami, bahwa ilmu yang dibutuhkan dalam menegakkan segala urusan dunia bernilai fardhu kifayah, seperti ilmu kedokteran dan matematika. Prinsip-prinsip perindustrian juga bagian dari fardhu kifayah seperti pertanian, tenun, politik bahkan jahit-menjahit. Jika semua hal ini tidak ada yang menguasainya, maka akan muncullah kecelakaan bagi mereka. Tetapi bila telah ada seseorang atau sebagian orang yang melakukannya, maka gugurlah kewajiban itu.

- Ilmu Yang Tercela

Ada juga beberapa ilmu yang tercela untuk dipelajari apalagi sampai diperdalam dan diamalkan. Seperti ilmu sihir, klenik, guna-guna termasuk ke dalam ilmu-ilmu yang tercela untuk dipelajari.
Jika kita ingin selamat di dunia, harus dengan ilmu. Jika kita ingin selamat di akhirat, haruslah dengan ilmu. Jika kita ingin selamat di dunia dan akhirat, juga harus dengan ilmu. Untuk itu, mari kita gemarkan menuntut ilmu. “Barangsiapa yang berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim).
Wallahu a’lam bishshawab…..

REFERENSI: http://koezz.wordpress.com/artikel-muslim/ilmu/

Kamis, 15 Mei 2014

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN




Perkembangan kepribadian menurut Jean Jacques Rousseau dalam Dalyono, 2002 berlangsung dalam beberapa tahap yaitu:

1.      Tahap perkembangan masa bayi (sejak lahir- 2 tahun)
Tahap ini didominasi oleh perasaan. Perasaan ini tidak tumbuh dengan sendiri melainkan berkembang sebagai akibat dari adanya reaksi-reaksi bayi terhadap stimulus lingkungan.
2.      Tahap perkembangan masa kanak-kanak (umur 2-12 tahun)
Pada tahap ini perkembangan kepribadian dimulai dengan makin berkembangnya fungsi indra anak dalam mengadakan pengamatan.
3.      Tahap perkembangan pada masa preadolesen (umur 12- 15 tahun)
Pada tahap ini perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominan. Anak mulai kritis dalam menanggapi ide orang lain. anak juga mulai belajar menentukan tujuan serta keinginan yang dapat membahagiakannya.
4.      Tahap perkembangan masa adolesen (umur 15- 20 tahun)
Pada masa ini kualitas hidup manusia diwarnai oleh dorongan seksualitas yang kuat, di samping itu mulai mengembangkan pengertian tentang kenyataan hidup serta mulai memikirkan tingkah laku yang bernilai moral.
5.      Tahap pematangan diri (setelah umur 20 tahun)
Pada tahap ini perkembangan fungsi kehendak mulai dominan. Mulai dapat membedakan tujuan hidup pribadi, yakni pemuasan keinginan pribadi, pemuasan keinginan kelompok, serta pemuasan keinginan masyarakat. Pada masa ini terjadi pula transisi peran social, seperti dalam menindaklanjuti hubungan lawan jenis, pekerjaan, dan peranan dalam keluarga, masyarakat maupun Negara. Realisasi setiap keinginan 

menggunakan fungsi penalaran, sehingga dalam masa ini orang mulai mampu melakukan “self direction” dan “self control”. Dengan kemampuan inilah manusia mulai tumbuh dan berkembang menuju kematangan pribadi untuk hidup mandiri dan bertanggung jawab

Minggu, 27 April 2014

FADHILAH SHOLAT DHUHA



shalat Dhuha ialah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu matahari sedang naik, yaitu kira-kira setinggi lebih kurang 7 (tujuh) hasta atau sekitar setinggi satu tombak, antara pukul 08.00 pagi sampai dengan masuk waktu Dzuhur (sekitar pukul 11.00 siang).

Shalat Dhuha hukumnya sunat muakad (sangat dianjurkan dan mendekati wajib) karena Rasulullah senantiasa mengerjakannya dan berpesan kepada para sahabat untuk mengerjakannya juga. Shalat Dhuha juga merupakan wasiat Rasul kepada umatnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits. “Abu Hurairah r.a. menceritakan, ‘Kekasihku Rasulullah Saw. memberi wasiat kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah kutinggalkan hingga meninggal dunia: shaum tiga hari dalam sebulan, dua rakaat shalat Dhuha, dan hanya tidur setelah melakukan shalat Witir” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Tentu saja, Rasulullah Saw. tidak akan mengistimewakan shalat Dhuha tanpa alasan. Berikut beberapa fadhilah atau keutamaan shalat Dhuha yang menjadikannya begitu istimewa di mata Rasullah Saw.

Pertama, shalat Dhuha merupakan ekspresi terima kasih kita kepada Allah Swt. atas nikmat sehat bugarnya setiap sendi dalam tubuh kita. Menurut Rasulullah Saw., setiap sendi dalam tubuh kita yang jumlahnya 360 ruas setiap harinya harus diberi sedekah sebagai makanannya.

“Pada setiap manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang yang bersangkutan (pemilik sendi) bersedekah untuk setiap sendinya.” Lalu, para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah Saw., siapa yang sanggup melakukannya?” Rasulullah Saw. menjelaskan, “Membersihkan kotoran yang ada di masjid atau menyingkirkan sesuatu (yang dapat mencelakakan orang) dari jalan raya, apabila ia tidak mampu maka shalat Dhuha dua rakaat dapat menggantikannya.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud)

Kedua, shalat Dhuha merupakan wahana pengharapan kita akan rahmat dan nikmat Allah Swt. sepanjang hari yang akan dilalui, entah berupa nikmat fisik maupun materi. Rasulullah Saw. bersabda, “Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada pagi hari, yaitu shalat Dhuha, niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu hingga sore harinya.’” (H.R. Al-Hakim dan At-Tabrani)

Lebih dari itu, momen shalat Dhuha merupakan saat kita mengisi kembali semangat hidup baru. Kita berharap semoga hari yang akan kita lalui menjadi hari yang lebih baik dari hari kemarin. Di sinilah ruang kita menanam optimisme hidup. Kita tidak sendiri menjalani hidup ini. Ada Sang Maharahman yang senantiasa akan menemani kita dalam menjalani hidup sehari-hari.

Ketiga, shalat Dhuha sebagai pelindung untuk menangkal siksa api neraka di hari pembalasan (kiamat) nanti. Hal ini ditegaskan Nabi Saw. dalam haditsnya, “Barangsiapa melakukan shalat Fajar, kemudian ia tetap duduk di tempat shalatnya sambil berdzikir hingga matahari terbit dan kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat, niscaya Allah Swt. akan mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya.” (H.R. Al-Baihaqi)

Keempat, bagi orang yang merutinkan shalat Dhuha, niscaya Allah mengganjarnya dengan balasan surga. Rasulullah Saw. bersabda, “Di dalam surga terdapat pintu yang bernama Bab Adh-Dhuha (Pintu Dhuha) dan pada hari kiamat nanti ada yang akan memanggil, ‘Dimana orang yang senantiasa mengerjakan shalat Dhuha? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah.’” (H.R. At-Tabrani)

Kelima, pahala shalat Dhuha setara dengan pahala ibadah haji dan umrah. “Dari Abu Umamah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan umrah.’” (Shahih Al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa, “Nabi Saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang mengerjakan shalat Fajar (Shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna.’” (Shahih Al-Jami: 6346)

Keenam, tercukupinya kebutuhan hidup. Orang yang gemar melaksanakan shalat Dhuha ikhlas karena Allah akan tercukupi rezekinya. Hal ini dijelaskan Rasulullah Saw. dalam hadits qudsi dari Abu Darda. Firman-Nya, “Wahai Anak Adam, rukuklah (shalatlah) karena aku pada awal siang (shalat Dhuha) empat rakaat, maka aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore hari.” (H.R. Tirmidzi)

Ketujuh, memperoleh ghanimah (keuntungan) yang besar. Dikisahkan, Rasulullah mengutus pasukan muslim berperang melawan musuh Allah. Atas kehendak Allah, peperangan pun dimenangkan dan pasukan tersebut mendapat harta rampasan yang berlimpah. Orang-orang pun ramai membicarakan singkatnya peperangan yang dimenangkan dan banyaknya harta rampasan perang yang diperoleh. Kemudian Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa ada yang lebih utama dan lebih baik dari mudahnya memperoleh kemenangan dan harta rampasan yang banyak yaitu shalat Dhuha.

“Dari Abdullah bin Amr bin Ash ia berkata, Rasulullah Saw. mengirim pasukan perang. Lalu, pasukan itu mendapat harta rampasan perang yang banyak dan cepat kembali (dari medan perang). Orang-orang pun (ramai) memperbincangkan cepat selesainya perang, banyaknya harta rampasan, dan cepat kembalinya mereka. Maka, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Maukah aku tunjukan kepada kalian sesuatu yang lebih cepat dari selesai perangnya, lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan cepatnya kembali (dari medan perang)? (Yaitu) orang yang berwudhu kemudian menuju masjid untuk mengerjakan shalat sunat Dhuha. Dialah yang lebih cepat selesai perangnya, lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan lebih cepat kembalinya.’” (H.R. Ahmad)

Menilik banyaknya fadhilah di atas, cukup beralasan kiranya bila Nabi Saw. menghimbau umatnya untuk senantiasa membiasakan diri melaksanakn shalat Dhuha. Dengan mengetahui fadhilah-fadhilah tersebut, diharapkan kita lebih termotivasi untuk beristiqamah melaksanakan shalat Dhuha agar tercapai tujuan bahagia dunia dan akhirat. Amin. Sumber: majalahpercikaniman.blogspot.com